TEGAL — Suasana hangat dan penuh haru mewarnai kegiatan Temu Pamit Mahasiswa Calon Lulusan Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pancasakti Tegal yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Matematika, Jumat (18/9/2026). Mengusung tema “Ruang Temu, Ruang Cerita dalam Satu Pertemuan”, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa calon lulusan, dosen, dan pengurus HMPS untuk kembali duduk bersama, berbagi cerita, serta mengukuhkan tali silaturahmi menjelang berakhirnya masa perkuliahan.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang D100 FKIP UPS tersebut diikuti oleh mahasiswa calon lulusan Program Studi Pendidikan Matematika, Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Matematika, serta pengurus HMPS Pendidikan Matematika. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi seremoni perpisahan, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan akademik yang telah dilalui mahasiswa selama menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Matematika.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Universitas Pancasakti Tegal. Suasana semakin hangat ketika acara memasuki sesi sambutan dari Ketua HMPS Pendidikan Matematika dan Ketua Program Studi Pendidikan Matematika yang memberikan apresiasi sekaligus pesan kepada mahasiswa calon lulusan.
Momen yang paling menyentuh hadir pada sesi Kesan, Pesan, dan Ungkapan Terima Kasih Mahasiswa Calon Lulusan. Dalam sesi tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai pengalaman, kesan, dan pesan selama menjalani proses perkuliahan. Mereka juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada Bapak dan Ibu Dosen atas ilmu, bimbingan, arahan, motivasi, dan perhatian yang telah diberikan selama menjadi bagian dari keluarga besar Program Studi Pendidikan Matematika.
Tidak hanya mahasiswa yang menyampaikan pesan. Bapak dan Ibu Dosen juga mendapatkan kesempatan untuk memberikan nasihat dan bekal kepada para calon lulusan. Berbagai pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa berakhirnya masa perkuliahan bukanlah akhir dari hubungan antara mahasiswa dan almamater, melainkan awal dari perjalanan baru untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh.
“Pamit bukan berarti berpisah. Ada ilmu yang dibawa, ada kenangan yang disimpan, dan ada silaturahmi yang harus tetap dijaga.” Semangat tersebut terasa dalam suasana kegiatan yang berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan.
Sebagai bentuk apresiasi dan ungkapan terima kasih, mahasiswa calon lulusan kemudian memberikan kenang-kenangan kepada Bapak dan Ibu Dosen serta HMPS Pendidikan Matematika. Pemberian tersebut menjadi simbol penghargaan atas ilmu, bimbingan, dukungan, dan kebersamaan yang telah terjalin selama mahasiswa menjalani proses pendidikan di Program Studi Pendidikan Matematika.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan pendidikan yang telah dilalui sekaligus harapan agar para calon lulusan diberikan kelancaran dalam menapaki kehidupan setelah menyelesaikan studi. Doa juga menjadi simbol bahwa langkah mahasiswa setelah meninggalkan ruang-ruang perkuliahan tetap diiringi harapan, doa, dan dukungan dari para dosen serta almamater.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama yang melibatkan Bapak dan Ibu Dosen, mahasiswa calon lulusan, serta pengurus HMPS Pendidikan Matematika. Senyum dan kebersamaan yang terabadikan dalam foto menjadi dokumentasi sekaligus kenang-kenangan dari sebuah pertemuan yang mungkin hanya berlangsung satu hari, tetapi menyimpan cerita panjang tentang perjalanan akademik, persahabatan, perjuangan, dan kebersamaan.
Melalui kegiatan Temu Pamit tersebut, HMPS Pendidikan Matematika menunjukkan bahwa momentum menjelang kelulusan tidak harus berakhir dengan sekadar ucapan selamat jalan. Lebih dari itu, perpisahan dapat menjadi ruang untuk mengenang perjalanan, menghargai proses, menyampaikan terima kasih, serta meneguhkan kembali ikatan silaturahmi antara mahasiswa, dosen, HMPS, dan Program Studi Pendidikan Matematika.
Bagi para calon lulusan, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa setelah toga dikenakan dan gelar akademik disandang, perjalanan sesungguhnya justru baru dimulai. Mereka boleh meninggalkan ruang kuliah, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan almamater, karena ilmu, kenangan, dan silaturahmi akan selalu menjadi bagian dari perjalanan merekam.


