ASMA Mengurangi Krisis Tatakrama

ASMA Mengurangi Krisis Tatakrama

 

(Naili Faizatis Syifa, Guru SMK N 3 Kota Tegal dan Mahasiswi Pascasarjana Pedagogi Universitas Pancasakti Tegal)

Di zaman era globalisasi seperti ini dimana budaya asing mudah masuk ke negara kita dengan cepat melalui perkembangan teknologi yang semakin pesat, hal ini dapat menimbulkan sisi positif dan negatif terhadap anak. Dimana budaya asing yang dipandang negatif pun sudah banyak ditemui di media sosial terutama mengenai sikap dan perilaku seorang anak. Sebagai guru BK yang mengamati masalah siswa dan menangani bebarapa kasus yang terjadi salah satunya akhir-akhir ini adalah krisisnya tatakrama.  Tata krama atau yang sering disebut sopan santun sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari baik sopan santun terhadap orang tua, kepada teman sebaya, dan lain lain. Budaya Jawa dikenal dengan sopan santun, lemah gemulai dan rendah hati. Tata krama masih dijalankan oleh orang Jawa antara lain tata krama dalam penggunaan bahasa, berpamitan, duduk, makan dan minum, berpakaian, dan bertamu. Namun tata krama di kalangan remaja kini telah jarang ditemui, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungannya atau tidak diajarkan oleh orang tuanya. Seperti hal paling terkecil dalam berterimakasih seusai mendapatkan sesuatu dari orang lain kini sudah jarang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari, begitu pula anak usia dini saat memberikan sesuatu kepada orang yang lebih tua dengan menggunakan tangan kiri. Hal ini karena pengaruh ilmu pengetahuan yang semakin maju. Sopan santun yang harus diterapkan pada anak sejak usia dini dalam kehidupan sehari hari yaitu sopan dalam berbicara, sopan saat bertamu atau ketika ada tamu, sopan ketika bertindak dan sopan ketika saat makan.

Beberapa kasus yang terjadi dimana siswa bermasalah dengan guru dikarenakan tata krama mereka. Siswa kurang sopan dalam berbicara dan bertingkah laku kepada guru. Mereka tidak hanya kurang sopan kepada guru tapi juga kepada orang tua. Berbeda dengan zaman dahulu dimana siswa ketika bertemu dengan guru langsung mengucapkan salam dan bersalaman bahkan meski jarak gurunya jauh dari mereka langsung berlarian mengejar gurunya hanya untuk bersalaman dan itu menjadi sebuah kebanggan tapi sekarang siswa terlihat cuek ketika bertemu dengan guru bahkan bahasa mereka ketika berbicara dengan guru juga tidak menggunakan bahasa yang halus atau dalam bahasa jawa disebut bahasa krama.

Fenomena yang ada itu sungguh memprihatinkan bahkan di berita ada guru yang dibunuh muridnya hanya karena di tegur. Ada juga kejadian Remaja aniaya keji orang tua di Trenggalek, pada awal Februari ada berita juga di media sosial seorang remaja yang memarahi seorang kakek setelah tabrakan di Kudus dan juga kejadian lima remaja pengemis keroyok petugas yang menegur terjadi di Jakarta Barat. Betapa PR orang tua dan guru sekarang sangat berat, kita memiliki tugas  untuk mengajarkan tatakrama kepada anak dan siswa kita. Krisis tatakrama menjadi tamparan keras untuk orang tua dan guru, khususnya pada dunia pendidikan agar kejadian dimana murid membunuh gurunya dan anak membunuh orang tuanya jangan sampai terjadi lagi.

Anak-anak tidak hanya hidup dirumah saja tapi juga menghabiskan waktu mereka belajar di sekolah, sehingga ini bukan hanya menjadi tugas orang tua saja tapi juga dibantu oleh guru. Demikian juga dalam pandangan agama, anak adalah titipan dari Allah SWT kepada seseorang, tugas orang tua adalah mengajarkan ilmu, mendidik akhlak dan perilaku kepada anaknya, namun jika orangtua tidak bisa mendidik anaknya oleh karena itulah orangtua mempercayakan kepada guru untuk memberikan ilmu, mendidik akhlak dan perilakunya. Sehingga antara orang tua dan guru harus saling bekerjasama, dimana orang tua mengajarkan dan mengawasi ketika di rumah semetara guru mengajar dan mengawasi mereka ketika di sekolah. Tatakrama sebaiknya diajarkan sejak dini karena jika kita ajarkan saat sudah tua maka akan sulit, ibarat ranting pohon yang masih muda, yang masih bisa diluruskan tapi ranting pohon yang tua akan patah apabila dibengkokkan.

Pada hakikatnya tata krama itu diajarkan oleh orangtua sudah sejak dini.  Dimulai dari kebiasaan mengucapkan salam atau senyum ramah ke orang yang baru dikenal dan baru bertemu, bertanya bagaimana kabar orang yang sudah cukup dikenalnya, mengucapkan terima kasih ketika anak diberi sesuatu atau mendapat pertolongan, mengungkapkan maaf jika menyakiti orang lain baik secara disengaja maupun tidak disakiti, tidak berkata kasar, menghormati orang yang lebih tua darinya dan menyayangi orang yang lebih mudah darinya dan masih banyak lagi. Marilah kita sebagai orang tua dan guru mulai melek dengan krisis tatakrama yang ada sekarang ini. Kita ajarkan anak untuk menghormati orang yang lebih tua karena dengan menghormati orang yang lebih tua maka anak akan mendapat ridho dan dengan menghormati guru maka anak akan mendapatkan ilmunya. Guru dan orang tua tidak meminta untuk dihormati tapi dalam agama mengajarkan kita agar kita merendahkan suara kepada orang yang lebih tua dan itu artinya kita harus senantiasa menghormati dan menjaga tatakrama kita kepada orang tua.

Mari kita terapkan ASMA untuk mengurangi krisis tatakrama yang ada saat ini, yang penulis maksud disini bukan ASMA penyakit tapi ASMA itu adalah (Ajarkan anak-anak kita untuk berkata dan bertingkahlaku sopan kepada orang yang lebih tua, Selalu beri contoh kepada anak-anak kita tentang tatakrama yang baik, MAri bersama-sama terus kita pantau anak-anak kita agar mereka tidak salah dalam bergaul).

Kalau bukan orang tua dan guru yang mau mengajarkan dan memantau siapa lagi, kita lah yang harus berperan banyak untuk menjadikan mereka para penerus kita dan penerus bangsa juga agama. Selama ini kita merasa nyaman dan tidak melihat adanya krisis tatakrama ini, orang tua banyak yang sibuk bekerja dan mungkin waktu untuk berkurang sehingga anak kurang terpantau apalagi mengajarkan tatakrama kepada anak-anaknya. Begitupun guru,menganggap bahwa tatakrama yang harusnya mengajarkan adalah orang tua sehingga guru hanya mengajar pelajaran akademik saja tanpa mengajarkan pentingnya tatakrama.

Ada beberapa penyebab anak melawan orang tua yaitu komunikasi yang kurang tepat, orang tua selalu mengkritik, orang tua tidak memahami pembicaraan anak, sikap otoriter orang tua, keinginan anak yang tidak terpenuhi, anak yang terlalu dimanja, mencontoh orang tua, hubungan yang tidak harmonis dan anak tumbuh tanpa bimbingan.

Marilah kita kurangi krisis tatakrama yang ada sekarang ini dengan ASMA (Ajarkan anak-anak kita untuk berkata dan bertingkahlaku sopan kepada orang yang lebih tua, Selalu beri contoh kepada anak-anak kita tentang tatakrama yang baik, MAri bersama-sama terus kita pantau anak-anak kita agar mereka tidak salah dalam bergaul). Karena peran orang tua dan guru yang sangat dibutuhkan agar anak-anak kita tidak semakin mengalami krisis tatakrama.  

Sejak  zaman dahulu, Bangsa Indonesia memiliki kepribadian yang luhur yang terkenal akan keramahtamahannya. Dan sampai sekarang pun Negara Indonesia memiliki kelebihan salah satunya yang dipandang oleh negara lain adalah sumber daya manusia yang santun dan punya tatakrama dan itu menjadi sisi positif negara kita dilihat oleh negara lain.  Oleh karena itu marilah kita lestarikan, kita junjung nilai-nilai kesopanan dan tatakrama, agar Bangsa kita tetap menjadi bangsa yang berbudaya dan memiliki kepribadian yang luhur. (Naili Faizatis Syifa)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.