Tenaga pendidik dan praktisi dari program studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pancasakti Tegal, Renie Tri Herdiani, M.Pd, diundang menjadi narasumber pada acara Counseling Gathering yang diadakan oleh MGBK SMK se Kab. Tegal, yang dihadiri oleh 70 peserta utusan dari SMK se Kabupaten Tegal. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan motivasi dan cara bagaimana meningkatkan personal branding image guru BK.

Selama ini image guru BK itu di masyarakat dipandang negative seperti polisi sekolah, tukang cukur, tukang bersih2, dan lain sebagainya. Bagaimana caranya meningkatkan personal branding image guru BK tersebut agar bisa diakui di masyarakat luas? Peningkatan personal branding dengan meningkatkan 4 kompetensi : pedagogi, sosial, professional dan kepribadian. Melalui kegiatan Counseling Gathering ini, sebagai upaya memperbaiki image guru BK lebih baik lagi. Dengan cara pahami dulu konsep profesionalitas sebagai guru BK, terutama ketika memberi layanan.

Dimulai dari peningkatan kompetensi kepribadiannya atau performance nya dahulu. Bagaimana agar guru BK itu dilihat menyenangkan oleh siswa. Misal, apabila guru BK terlihat lusuh, bau apek, galak dan kurang bersahabat, apakah siswa akan merasa nyaman dengan guru BK? Ketika dilihat pada tampilan pertama saja dilihat sudah tidak nyaman, maka otomatis siswa juga akan merasa tidak nyaman. Berbeda jika guru BK nya rapi, meski tidak cantik atau ganteng namun ramah, wangi, murah senyum dan mempesona, tentu saja siswanya akan merasa nyaman dan tidak menjaga jarak.

Kedua, meningkatkan kompetensi profesionalitas guru. Image negative guru BK juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Karena masih minimnya guru BK, maka biasanya guru olah raga atau guru agama merangkap juga menjadi guru BK. Beliau-beliau ini tidak memiliki pengetahuan dan keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling. Maka jika BK diampu oleh guru olah raga, setiap kali ada permasalahan dan kenakalan siswa, biasanya pemecahannya diarahkan dalam bentuk hukuman fisik. Kalo guru BK nya diampu oleh guru agama, biasanya upaya penyelesaian masalah yang muncul dari siswa biasanya diarahkan kepada hafalan juzz atau ayat-ayat suci, misalkan. Hal itu lah yang mempengaruhi image guru BK pada siswa. Sejak adanya sertifikasi guru, maka banyak tenaga pendidik yang beralih ke BK, namun juga tidak didukung dengan peningkatan keilmuan, keahlian dan profesionalisme sebagai seorang guru BK.

Peningkatan kompetensi pedagogi dan kompetensi sosial, yaitu dengan membangun keilmuan dan keahlian dalam bimbingan dan konseling, terutama membangun komunikasi dengan klien atau orang lain serta memberikan bantuan pemecahan masalah. Dalam kompetensi ini, seorang guru BK di tuntut untuk memberikan pelayanan yang humanis, berempati, fair dan profesional kepada siapapun. Jadi setiap siswa mendapatkan pelayanan yang sama. Guru BK menjunjung tinggi sikap humanis, memanusiakan siswa dan tidak meremehkan siswa terutama dalam memberikan layanan konseling.

Guna memberikan layanan yang lebih baik, maka seorang guru BK dapat merujuk pada 4 strategi yang dapat diterapkan:

1. memperbaiki dan meningkatkan performance guru BK agar bisa diterima oleh siswa dengan baik

2. meningkatkan layanan bimbingan dan konseling

3. meningkatkan kemampuan IT yang mendukung pemberian layanan bimbingan dan konseling

4. meningkatkan keilmuan dan keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling

Dalam acara Counseling Gathering tersebut, selain dihadiri oleh 70 peserta, juga dihadiri oleh Ratri Pratiningrum, S.Pd selaku Ketua MGBK SMK Kab. Tegal dan Taesar Afandi, S.Pd selaku Ketua ABKIN Kab. Tegal. Acara ditutup dengan promosi prodi BK dan FKIP UPS Tegal.

https://sinarpaginews.com/pendidikan/70822/peningkatan-personal-branding-image-guru-bk-melalui-counseling-gathering.html

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »