Prof. Dr. Purwo Susongko,M.Pd., Telaah Kritis Hari Jadi Tegal

Prof. Dr. Purwo Susongko,M.Pd., Telaah Kritis Hari Jadi Tegal

Perubahan dalam cara-cara penulisan sejarah terjadi mulai abad ke-17. Suasana budaya yang berciri perkembangan ilmu pengetahuan alam serta sikap intelektual yang kritis muncul di kalangan penulis sejarah.

Seorang sarjana Prancis, Jean Mabillo, dipandang sebagai peletak dasar ilmu sejarah yang disebut diplomatika- sesuai judul buku yang ditulisnya, De re diplomatica (1681). Para sejarawan mulai menemukan berbagai cara untuk mengkaji dokumen atau sumber sejarah secara kritis sehingga dapat menghasilkan penulisan sejarah yang mendekati kebenaran.

Selain itu, sejarawan Leopold von Ranke (1795-1815), memperkenalkan prinsip seleksi kritis atas data sejarah untuk menetapkan fakta berdasarkan pedoman wie es eigentlich gewesen , sejarah sebagaimana sesungguhnya terjadi (Barnes, 1963).

Kini ada perbedaan antara sejarah dan babad, sejarah adalah produk ilmu pengetahuan dengan pembenaran sepenuhnya dengan metode ilmiah sedangkan babad adalah produk kebudayaan sehingga tidak dihasilkan dari metode ilmiah.

Dalam Babad Banyak ditemukan naskah-naskah itu berasosiasi dengan “masa klasik” kerajaan tempo dulu, termasuk didalamnya customs , folklor, bahkan   sihir dan mitos . Dalam sejarah, penggolongan sumber sejarah  diperluas dengan memasukkan kronikel, catatan harian, dokumen keluarga, memoar, arsip/dokumen resmi.

Bila sumber sejarah masih buntu maka babad dapat diambil sebagai sumber kedua (sekunder) dengan catatan tidak ada pertentangan antar Babad yang digunakan sebagai sumber. Minimal Babad tersebut adalah dokumen resmi pemerintah dijaman berlakunya peristiwa tersebut. Bukan cerita leluhur yang kemudian ditulis di era sekarang dan dijadikan sumber sejarah.

Peneliti awal sejarah Jawa, H.J. De Graaf misalnya, membuktikan bahwa “hanya” dengan mempelajari sumber-sumber tradisional seperti babad (tentu saja ditambah sumber-sumber lain), ia berhasil menampilkan aspek-aspek sejarah Jawa secara rinci.

Sebagai orang Belanda, ia berguru kepada filolog Jawa R.M. Ngabehi Poerbatjaraka untuk “menaklukkan” berbagai kesulitan dalam menghadapi sumber-sumber tradisional, terutama dari segi bahasanya. Hasilnya, antara lain sejarah Mataram yang lengkap – dari muncul, berkembang sampai runtuhnya kerajaan itu (lihat De regering van Panembahan Senapati Ingalaga [1954],De regering van Sultan Agung[1958],  De regering van Sunan Mangku–Rat I Tegal-Wangi, 2 jilid [1961, 1962], dan  karya-karya lainnya).

Studi H.J. de Graaf tersebut dapat digolongkan sebagai tipikal sejarah konvensional  yang menentukan pada peristiwa-peristiwa penting tingkat elite, sementara aspek sosial yang lebih luas tidak mendapatkan perhatian sewajarnya. Meskipun demikian, hasil jerih payah de Graaf sepanjang puluhan tahun itu dipandang sebagai landasan yang kokoh bagi studi ilmiah tentang sejarah Jawa dalam masa abad ke-16/18.

Menurut sejarawan M.C. Ricklefs, yang pernah menjadi murid de Graaf, arti penting karya-karya gurunya itu terletak pada kepeloporannya untuk menyusun suatu dasar kisah sejarah serta menyediakan rujukan sumber-sumber bagi yang akan mengikuti jejaknya(1989:xvi). Di kemudian hari, Ricklefs sendiri menunjukkan keandalannya untuk melanjutkan upaya de Graaf dalam menyusun rekonstruksi sejarah Jawa berdasarkan sumber-sumber yang tergolong langka.

Tiga karya utamanya (lihat Jogjakarta under Sultan  1749-92 [1974], War, Culture and Economy in Java 1677-1726 [1993], dan The Seen and Unseen Worlds in Java 1726-1749 [1998]) merupakan trilogi yang komprehensif untuk melihat perkembangan sejarah Jawa, khususnya di seputar lingkaran keraton, kurun abad ke-17/18.

Dalam studinya itu, Ricklefs mendemonstrasikan kepiawaiannya mengolah dan menganalisis sumber-sumber lokal secara intensif – di samping jenis sumber-sumber lain tentunya. Agak berbeda dengan de Graaf yang lebih menekankan kajiannya pada aras elite dengan konsentrasi pada aspek politik dan militer, maka perhatian Ricklefs meluas pada aspek-aspek lainnya.

Secara ringkas, studi Ricklefs melukiskan dinamika masyarakat Jawa sekitar keraton dan interaksinya dengan kekuatan asing (Barat) yang muncul kemudian Interelasinya mencakup perang atau militer dan politik, ekonomi, budaya, sastra  serta agama. Aspek agama (Islam) bahkan ditunjukkan sebagai upaya orang Jawa untuk menemukan identitasnya di tengah himpitan kekuasaan asing–yakni VOC.

Mengkaji sejarah Tegal sungguh suatu hal yang sangat sulit dilakukan mengingat belum ada data yang dapat dipandang sebagai suatu sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tegal sebagai suatu wilayah justru baru dikenal di panggung sejarah karena ada nama Tegalarum , sebuah tempat dimakamkanya Sunan Amangkurat Agung, putra Sultan Agung yang terjadi tahun 1677. Sebelum peristiwa tersebut memang Sejarawan belanda De Graaf mengungkap seorang Tumenggung dari Mataram yang sangat pandai berdiplomasi dengan VOC yang bernama Tumenggung Tegal, namun demikian juga belum dapat dipastikan apakah Tumenggung Tegal tersebut adalah Bupati yang menguasai Tegal ataukah sekedar nama saja karena tidak semua Tumenggung menjadi Bupati atau penguasa disuatu Wilayah.

Di masa Sunan Amangkurat Agung, De Graaf menjelaskan Bupati Tegal bernama Martoloyo yang diangkat oleh Sultan Agung menjadi Bupati Tegal tahun 1636. Nama Martoloyo memang sangat legendaris dan sumber-sumber di Belanda juga menyebut Martoloyo sebagai tokoh sentral dan berperanan penting ketika Sultan Agung melakukan penyerangan ke Batavia.

De Graaf  dalam runtuhnya istana Mataram mencatat  bahwa nama penguasa Tegal setelah Tumenggung Tegal diketahui bernama Wira Suta. Kemudian nama itu berganti menjadi Harya Martalaya setelah diketahui kesetiaannya kepada raja. Sedangkan pengangkatanya sebagai adipati Tegal oleh De Graaf disebutkan tahun 1636 bersamaan dengan acara Grebeg Mulud (hal 140 dan 165).

Babad Tanah Jawi (sumber sekunder) menyebutkan bahwa ketika sunan Amangkurat Agung berada di Banyumas, telah menyebut Adipati Tegal dengan nama Adipati Martalaya. Tentunya Martalaya disini bukanlah RM Kaniten Atau RM Martalaya putra Panembahan Senopati dari Ibu RA Retno Dumilah karena RM Martalaya menjadi Bupati Madiun (Dr Purwadi, 2004). Tentang wilayah kekuasaan , sebagaimana kekuasaan Tumenggung Tegal, Kekuasaan Adipati Martalaya juga meliputi Tegal, Pemalang dan Brebes sampai Losari dengan pusat pemerintahannya di Tegal ( Kota Tegal sekarang).

Pada pemerintahanya , banyak pula kapal-kapal asing yang singgah di Tegal, dan diketahui pula ada kapal milik orang-orang pendukung Trunojoyo dengan maksud untuk menaklukan daerah itu. Namun Wira Suta tetap setia kepada Susuhunan (Surat Cornelis Speelman, 9 Januari 1677).

Sepeninggal Bupati Martalaya, Bupati Tegal berturut turut adalah Raden Harya Sindureja dan selanjutnya diperintah oleh Wangsa  Reksonegaran. Sejarah hingga kini belum dapat memastikan apakah ada hubungan darah antara Bupati Sindurejo dengan Bupati Martalaya demikian pula antara Wangsa Reksonegaran dengan nama Ki Gede Sebayu , suatu nama yang tidak pernah dikenal dalam babad selain cerita di Danawarih dan Kalisoka.

Cerita-cerita di Tegal menyebutkan Wangsa Reksonegaran adalah keturunan ki Gde Sebayu dari  Hanggawana. Semua bupati dari reksonegaran bergelar Raden Mas ini mengindikasikan keluarga reksonegaran berasal dari trah raja yang kemudian diberi jabatan Bupati Tegal. Makam mereka pun berada bersama dengan astana dalem Kanjeng sunan Amangkurat Agung sebagai leluhurnya di Tegalarum. Berkaitan dengan Nama Ki Gede Sebayu sebagai pendiri Tegal/Bupati Tegal pertama, maka kami memberikan tangggapan sebagai berikut:

1.Nama Ki Gede Sebayu dan seluruh silsilahnya adalah hasil cerita-cerita /catatan di Tegal yang kemudian di tulis oleh beberapa penulis seperti Ki Soemarno, 2003; Raden Suputra , 1959; Ki Ahmad Mangun Harsono. Bahkan di Kalisoka sebagai sumber cerita tersebut mempunyai versi yang berbeda dari yang dianut oleh Pemkab/Pemkot Tegal. Menurut Juru kunci Makam Hanggawana (Pak Mudi) justru Ki Gede Sebayu adalah tenaga ahli/tukang yang didatangkan Hanggawana/penguasa Kalisoka bukan Tegal, sebagai ahli kemasan dan Ki Gde Sebayu tidak mempunyai keturunan, sangat kontras dengan versi Pemkab/Pemkot dimana Hanggawana Justru anak dari Ki Gde Sebayu. Selanjutnya cerita-cerita Ki Gde Sebayu dan Hanggawana adalah cerita lokal Kalisoka ketika Kalisoka masih berupa kota pesisir sehingga sejarah juga belum dapat mengungkap tahun berapa Kalisoka merupakan pelabuhan.

2.Dalam Naskah Hari jadi Kab Tegal, tokoh  Ki Gde Sebayu pun masih belum diketahui asal usulnya dengan jelas. Dalam naskah dijelaskan nama sebayu dimungkinkan berasal dari kata Sedayu yaitu tempat Pangeran Benawa dan pengikutnya melakukan perjalanan spritual dari Pajang dan Ki Gde Sebayu dianggap salah satu pengikutnya. Bisa juga Ki Gde Sebayu mempunyai urutan leluhur dengan Batara Kathong putra Raja Majapahit sesuai dengan catatan Tegal. Diangkatnya Ki Gde Sebayu  sebagai juru Demung oleh pangeran Benawa (Benawa yang mana?) hingga diangkatnya menjadi Adipati Tegal beserta penanggalanya,  semuanya bersumber dari catatan Tegal .

3.Dalam tradisi era awal mataram, Ki Ageng atau Ki Gede adalah gelar pemimpin pada zaman dahulu, yang biasanya digunakan oleh tokoh pendiri suatu daerah tertentu (Moedjanto , 1987) atau tokoh dengan kesaktian (De Graaf, 1985).  Sebutan “Ki” adalah sebutan untuk seorang lelaki pada umumnya, sedangkan tambahan “Ageng” atau “Gede” (‘besar’) adalah penanda bahwa tokoh tersebut benar-benar pemimpin pada suatu daerah tertentu.

Sebagai contoh, para leluhur pendahulu wangsa Mataram sebelum Panembahan Senopati memakai gelar Ki Ageng tersebut . Sedangkan contoh tokoh sakti dalam cerita rakyat yang memakai gelar ini misalnya ialah tokoh Ki Gede Sela, yang diceritakan mampu dapat menangkap kilat dengan tangannya.

Berikut daftar artikel tentang tokoh-tokoh nyata atau legenda yang bergelar Ki Ageng/Ki Gede (untuk pria) serta Nyai Ageng/Nyi Ageng (untuk wanita), sbb.:

  •  Ki Ageng Enis Ki Ageng Getas Pandawa

     Ki Ageng Gribig

     Ki Juru Martani

     Ki Ageng Mangir

     Nyai Ageng Ngerang

     Ki Ageng Pamanahan

     Ki Ageng Pandan Arang

     Ki Ageng Penjawi

     Ki Gede Sampang  Ki Ageng Pengging

     Ki Ageng Pengging Sepuh

     Ki Ageng Sela

     Nyi Ageng Serang

     Ki Ageng Suryomentaram

     Ki Ageng Tunggul Wulung

  •  Ki Ageng Wonosobo Ki Ageng Rendeng

     Ki Ageng Kutu

    Di wilayah Kab Tegal juga terdapat nama nama tokoh daerah seperti halnya Ki Gede Balamoa, Ki Gede Solapangpang (leluhur Desa Kudaile, Slawi), Ki Gede Jurug Mas (leluhur Desa Cregomas, masuk Pakembaran, Slawi). Pekerjaan rumah kita sekarang adalah mencari nama daerah Sebayu agar justfikasi ketokohan Ki Gede Sebayu menjadi lebih logis

    4. Pangeran Purbaya yang  makamnya berada di Kalisoka menurut catatan di Tegal adalah putra dari Panembahan Senopati yang menikah dengan Siti Gianti Subalaksana (Anak sulung dari Ki Gde Sebayu) bertentangan dengan sumber yang lebih resmi yaitu catatan dari Belanda dan babad tanah jawi.

    De Graaf dan Babad Tanah Jawi menjelaskan bahwa Pangeran Purbaya putra Panembahan Senopati meninggal ketika terjadi perang besar antara Mataram dengan pasukan Trunojoyo di Gegodog atau Gegunung pada tahun 1676. Jenazah Beliau dimakamkan di komplek makam keluarga raja di Wotgaleh, kini di daerah Berbah Sleman.

    5. Bila Pangeran Purbaya Yang meninggal di Kalisoka adalah putra Panembahan Senopati maka tidak aneh bila di Kabupaten Tegal ada Pusaka Kanjeng Kyai Plered karena pusaka tersebut milik ayahanda Pangeran Purbaya . Namun ternyata sulit untuk membuktikan bahwa Pangeran Purbaya yang berada di Kalisoka adalah putra Panembahan Senopati . Pertanyaan selanjutnya adalah dari mana Pusaka Kanjeng Kyai Plered yang sekarang berada di Tegal?  Tentunya kita tidak mau di tertawakan orang karena Jelas sekali  bahwa Pusaka Kanjeng Kyai Plered jelas –jelas berada di Karaton Yogyakarta Hadiningrat dan merupak simbol kerajaan.

    6. Bagi Kota Tegal Sebenarnya ada tiga pilihan untuk menentukan hari jadinya , yaitu menggunakan peristiwa dijadikanya Tegal sebagai kota administratif yang dipimpin oleh seorang Geminte di jaman Belanda atau  dengan keluarnya UU nomor 12 tahun 1954 dimana Kota Tegal dijadikan Kotamadia. Bagi Kabupaten Tegal Dapat pula  mengunakan catatan Belanda yang dijelaskan oleh De Graaf maupun sumber Babad tanah Jawi dimana lebih mengenal Tokoh Martoloyo sebagai Bupati Tegal. Hal ini sangat beralasan karena tokoh ki Gde Sebayu hanya dikenal pada cerita-cerita di Tegal yang baru ditulis sekitar tahun 1950-an.

    Demikianlah mari kita bersama literate dalam sejarah dan berani melakukan koreksi terhadap kajian yang telah dilakukan para pendahulu. Radite Wage, Wuku  Wuye, Kasada 2934 Jawa.(*)

    https://jateng.disway.id/read/684197/telaah-kritis-hari-jadi-tegal

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.